Single Release - Ayun Buai Zaman



sejauh mata memandang, hamparan kilau keemasan, sepertinya ini puncak angan-angan. namun apapun yang pernah tergenggam pasti akan memudar lalu hilang. hitungan kepemilikan, baptis sosialita, yang sejatinya buaian fantastika. hits namun kitsch, hujan blitz, padahal gulita. naik-naik ke puncak gunung kasta, mati lelah karena terlalu berusaha, mari tertawa di pemakamannya. lencana kepemimpinan legitimasi kuasa, yang sesungguhnya mainan monyet saja. insting hewani, primitif, berias budaya. sikat-sikut ke puncak mercu kuasa, mati naas tertimpa berat perutnya . mari kencingi batu nisan kuburnya. sejauh pandang mata, hamparan kilau emasnya, sepertinya puncak angan. ini buai ini buai, buain fantastika, ini buai ini buai ini buai, ayun buai zaman. sejauh mata memandang, hamparan kilau keemasan, sepertinya ini puncak angan-angan. namun apapun yang pernah tergenggam. pasti akan memudar lalu hilang 

'Ayun Buai Zaman' adalah single terbaru FSTVLST yang dirilis sebagai bagian dari debut album FSTVLST yang rencanyanya akan dirilis utuh pada awal januari 2014. Proses pembuatan album ini terangkum dalam FSTVLSTRCRDPRJCT (festivalist record project) yang sudah dimulai sejak pertengahan 2013. Serangkaian eksplorasi kreatif kami lakukan untuk mendefinisikan kembali musik FSTVLST tanpa meninggalkan identitas-identitas yang sudah terbangun sejak band ini masih bernama Jenny. 'Ayun Buai Zaman' adalah lubang kecil untuk mengintip isi album FSTVLST nanti. Semoga bisa jadi rilisan yang 'mBerkahi' dan membahagiakan teman-teman semua. 

'Ayun Buai Zaman' akan diperdengarkan untuk pertamakalinya kepada teman-teman via 'pamityang2an qwerty radio' dalam program FSTVLSTRLS2AN, 27 november 2013 pukul 20.00-21.00, kemudian bisa diunduh gratis lewat klik pada tautan-tautan ini:

Bagi yang sudah mengunduh, silahkan dinikmati dan dibagikan melalui akun sosial media masing masing dengan format: 'follow twitter @pamityang2an dan dibales DM single baru @FSTVLST - Ayun Buai Zaman' 

Teman-teman juga bisa mendapatkan rilisan ini secara gratis dengan cara kirim email ke: fstvlstblog@gmail.com dengan subject: AYUN BUAI ZAMAN, lalu akan kami balas secara bertahap dengan materi lagu 'Ayun Buai Zaman'. Bagi yang sudah kirim email dan sudah kami balas, silahkan dinikmati dan dibagikan melalui akun sosial media masing masing dengan format: 'kirim email ke fstvlstblog@gmail.com dibalas single baru @FSTVLST - Ayun Buai Zaman'. jangan lupa tambahkan komentar jika masih ada sisa jatah karakter :)

'Ayun Buai Zaman' - direkam di Rockstar Studio, mixing dan mastering oleh: Anton Gendel di Yayasan Seni Bagong Kusudiharja. FSTVLSTRCRDPRJCT 2013. 

sejauh mata memandang, hamparan kilau keemasan, sepertinya ini puncak angan-angan. namun apapun yang pernah tergenggam. pasti akan memudar lalu hilang :). terimakasih. 

FSTVLSTVSP


graphic illustration made by LIBSTUD

FSTVLST di JNM


fotografer panggung yang sangat masyaAllah karyanya, terimakasih mas Nadzarudin untuk rekam momennya. ini adalah jathilan FSTVLST waktu itu di JNM, menyambut kawan-kawan Morfem yang sedang mengadakan tour. untuk set foto lebih komplit, bisa langsung japri ke Flickr mas Nadzarudin, klik disini. terimakasih. 

Maha bertanya tentang Tanah Indah



Salah satu alasan mengapa hidup ini terus punya cara untuk membuat kita takjub karena terlalu banyak tanda tanya dan teka-teki yang belum terjawab dan terkuak. Bahkan pertanyaan-pertanyaan yang telah ada sejak peradaban homo saphiens dimulai hingga kini masih terus dipertanyakan dan meski telah banyak jawaban yang dilahirkan. Dan memang seperti itu, tanya dan jawab adalah bagian penting dari rotasi yang bernama kehidupan ini.
*
Sejak masih kecil maha, jagoan kecilku yang pertama, telah akrab dengan Jenny. Awalnya, Jenny kuperkenalkan kepada Ibunya. Beberapa lagu hasil unduhan kukirimkan kepada Ibunya maha. Setelah didengar dengan seksama, ia tertarik dengan berbagai alasan. Salah satunya karena lirik didalam lagu-lagu Jenny sangat sarat makna dan alasan-alasan itu ia tulis di blog keluarga kecil kami. Nah, selanjutnya Jenny diperkenalkan Ibunya kepada maha. Selain memutar lagu itu setiap pagi saat memulai aktivitas, Ibunya yang memiliki suara yang merdu sering menyanyikan beberapa lagu untuk maha. Paling sering lagu maha Oke. Bagi maha, lagu ini khusus dicipta untuknya. Dengan lidah yang belum bisa menyebut huruf R, maha akan menimpali dan berteriak keras “maha oce, maha oce”...hahaha...

Di kamar kami juga telah lama tertempel poster yang bergambar awak FSTVLST yang berlatar putih. Sesaat setelah poster itu kutempel di dinding tripleks kamar, maha bertanya “Papa Bebi, ini Jenny?” Dan saya mengangguk membenarkan. Selanjutnya, ia mulai bertanya satu per satu nama orang yang berada di poster itu. Saya memperkenalkannya satu per satu, dan setelah itu maha paling ingat dengan gambar Oom Farid. Selain karena pernah menulis surat untuk maha dalam buku bertajuk maha tanpa huruf kapital, maha juga sudah pernah bertemu langsung dengan Oom Farid saat bersama Ibunya ke Jogja menghadiri acara wisudaku. Dan begitulah, maha sepertinya telah menganggap jika Jenny adalah bagian dari keluarganya bahkan disaat usianya masih dalam kategori balita.

Kini maha telah berusia 4 tahun dan belum genap sebulan ia barusan punya adik baru. Di tahunnya yang keempat ini, maha mulai menunjukkan banyak perkembangan yang sering kami –sebagai orang tuanya- tak prediksi. Dari mulut yang imut itu, ia seringkali memproduksi kata bahkan kalimat yang entah dari mana ia temukan. Suatu waktu saat sedang berkendara motor bersamaku, tiba-tiba ia bertanya “Papa apa itu imajinasi?” Saya tentu tak bisa langsung memberikan jawaban yang langsung bisa memuaskan. Dan jika seperti itu, ia akan terus memburu hingga ia puas dengan jawaban yang kita berikan. Tentang imajinasi ini, sepertinya maha sangat terpengaruh dengan lagu yang beberapa waktu lalu sering ia dendangkan. Ingat lirik ini “siapa yang membutuhkan imajinasi jika kita sudah punya televisi.” Yup, lagu milik Melancholic Bitch yang dinyanyikan oleh anak berumur 4 tahun.

Kebiasaan maha bertanya memang sering memusingkan banyak orang, termasuk Om-om dan tante-tantenya di Kedai Buku Jenny tempat kami menetap beberapa bulan ini. Dan kemarin malam maha kembali berulah tapi kali ini di Bone –kampung halaman istriku- saat saya tidak bersama mereka. Jadi semalam Ibunya maha mengirimkan pesan pendek ke saya. Isi pesannya “beritahu Oom Farid, siap-siap lirik lagunya diubah sm maha. Dr tadi dia nyanyikan Tanah Indah versi maha...hahaha” Segera pesan itu kusampaikan ke Oom Farid via inbox FB dan seperti yang kukira Oom Farid tertawa terbahak-bahak dan balik bertanya bagaimana lirik Tanah Indah versi maha. Kembali kutanyakan ke Ibunya dan segera dijawab kalau semalaman maha bernyanyi lagu tanah Indah Untuk Para Terabaikan, Rusak dan Ditinggalkan dengan versinya. Jadi lirik Tanah Indah semua diubah dengan bertanya, kenapa menetes kencang?  apa yang dibakar? Dan semua lirik dilagu itu diubahnya menjadi pertanyaan. Dan dia melakukan itu sambil mendendangkan nada-nada Tanah Indah yang begitu dihafalnya. Kubayangkan ia bernyanyi lantang dengan menirukan gaya panggung Oom Farid seperti yang ia liat di beberapa file video yang sering kuputar. Hahahaha........

Pagi ini, saya kembali memutar lagu Tanah Indah Untuk Para Terabaikan, Rusak dan Ditinggalkan dan kembali bertanya tentang banyak hal yang sering lupa kutanyakan termasuk tentang tanah yang sedang kupijak hari ini. Di akun twitter Kedai Buku Jenny kutulis “siapa nih teman pencerita yg mau diajak terbang bersama ke tanah indah untuk para terabaikan, rusak dan ditinggalkan? Dan saya rindu Jogja.

Terima Kasih jagoan kecilku sudah mengingatkan!

Belia Pagi
Makassar, di Penghujung Mei

demo video for demo audio


Menantang Rasi Bintang, adalah lagu demo yang sempat kami rilis secara resmi pada project twitter 500 followers 1 acoustic (yang sekarang sedang idle, karena kami sedang fokus pada penggarapan album FSTVLST). Lagu demo ini sudah selalu kami mainkan di panggung-panggung dan festival-festival terakhir kami. 

waktu itu sudah larut malam, beberapa hari setelah rilis demo ini, di studio kami, obrolan ringan kesana-kesini antara Gulita Benderang dan teman-teman LEPAS KENDALI (Yohanes Catur, Gilang Kusuma, dan Widyasto) dan mas Anthusa (LIBSTUD) membawa kami ke ide membuat video ini. tidak butuh pertimbangan terlalu lama, konsep sederhana terputuskan, lalu beruntun satu demi satu disiapkan. story board, timeline produksi, alat, crew call, dan pagi itu juga langsung berangkat ke lokasi. Pantai Pok Tunggal di Gunungkidul. jam setengah 6 pagi kami sudah sampai, langsung sikat scene demi scene, take demi take. sambil piknik. sebuah video yang dibuat dengan proses persiapan yang sangat sederhana, tidak bertele-tele. hanya... kami lakukan saja. seperti yang pernah kami tulis di Dance Song, 'Stop thingking too much, just start your steps'. maka jadilah video ini, demo video untuk demo audio Menantang Rasi Bintang, yang bisa teman-teman lihat di YOUTUBE (klik) dan VIMEO (klik). 

Terimakasih tim LEPAS KENDALI dan LIBSTUD, dan juga teman-teman semua telah memustuskan untuk selalu mendukung FSTVLST, dari waktu ke waktu. 

Curhat Sore Hari dan Tanah Tumpah Darah



Saat masih kuliah dulu, bersama teman-teman se kost kami punya semacam konsensus bahwa sesi curhat hanya akan kami hela setelah jam 11 malam dan lampu mesti dimatikan. Tak tahu sejak kapan dan siapa yang mengusulkan konsensus yang hingga kini sepertinya masih kami taati itu. Yang pasti, saat salah satu dari kami menunjukkan gelagat mau curhat, maka serentak siapa saja yang merasa menjadi bagian dari konsensus itu akan mencari jam dinding atau segera melirik ke jam tangannya memastikan apakah waktu curhat sudah tiba. Jika belum, maka bersabarlah hingga waktunya tiba. Oh iya, sepertinya konsensus ini hanya berlaku jika tema curhatan kawan berhubungan dengan belahan hati dan pernak perniknya, untuk tema lain seperti curhat soal negeri yang carut marut ini sepertinya bisa kapan saja...

.........................

Beberapa sore lalu, seorang kawan dari Jogja menyapaku via layanan chat facebook. Tak seperti biasanya, bahkan kalau tak salah ini kali pertama kami berkomunikasi memanfaatkan ruang ini. Biasanya kalau bukan lewat sms atau lewat inbox FB atau twitter. Rupanya ia hendak memohon maaf karena beberapa sms ku,termasuk ucapan selamat ultah yang ke 9 buat adiknya yang bernama sama dengan bassist Red Hot Chili Papper, yang beberapa hari sebelumnya tak dapat ia balas karena smart phone nya sedang bermasalah.

Setelah ucapan maaf, lalu kami saling memberi kabar mengenai tempat baru kami. Saya bercerita bahwa Kedai Buku Jenny beberapa hari kemarin menempati rumah baru yang kontrakannya baru kami bayar separuh di sebuah kompleks perumahan yang tak begitu jauh dari Unhas dan hanya “sepelemparan tombak” dari rumah si Mudah Rebah.  Kawan saya ini juga bercerita tentang sebuah tempat barunya di bilangan Bugisan, Jogja bersebelahan dengan Teater Garasi yang ia namai LIBCULT, serupa studio budaya.

Setelah puas bercerita tentang masing-masing tempat baru kami beserta mimpi-mimpi besar didalamnya, saya lalu meminta izin kepada si kawan untuk mendengar curhatku, curhat sore hari. Si kawan mengiyakan dengan antusias. Saya lalu bercerita tentang mimpi besar kami di Kedai Buku Jenny (KBJ). Kedai buku ini belum lagi genap berumur dua tahun namun dari waktu yang singkat itu kami belajar bahwa memang tak begitu mudah menyusun serpihan-serpihan semangat dan mimpi menjadi serupa “rumah” yang hangat dan sederhana dimana mimpi-mimpi benar-benar menjadi nyata. Semuanya tak semudah saat mimpi-mimpi besar ini kami susun dengan runut sesaat setelah bertemu “Jenny” di Jogja beberapa tahun kemarin. Berbagai persoalan mendera, mulai dari persoalan yang remeh-temeh hingga yang berurusan dengan hal-hal yang prinsipil. Tapi kami terus belajar, dan tak ragu untuk mengambil keputusan bahkan saat ia begitu sulit untuk dilakukan. Mimpi kami terlalu besar di kedai buku ini.

Si kawan terus menyimak dan sesekali menimpali. “Rumahnya harus teduh dulu supaya nanti pas jalan ga sibuk mindah2in ember buat nampung bocoran”, begitu katanya soal kepindahan kami ke rumah baru.

Hmm, saya setuju. Semuanya memang harus dipikir matang-matang. “Saya pengen banget nanti akhirnya sy sendiri bisa meneruskan KBJ di jogja” begitu lanjut si kawan terus menyemangati.

Sesi curhatku selesai. Loading semangat anyar telah usai. Dan tak kusangka si kawan juga memohon satu sesi lagi, masih curhat sore hari. Dan menurutku kali ini lebih serius.

Setelah memastikan bahwa saya siap menyimak, si kawan lalu memulai sesi ini dengan kegelisahannya soal hidup ini. “Entah mengapa, menginjak 30, ujung itu terasa semakin dekat.”

“Saya hampir tiap hari merasakannya,” begitu timpalku.

Melanjutkan curhatnya, si kawan mulai bercerita tentang keresahannya. Keresahan yang kupikir seharusnya dirasakan oleh siapa saja yang sadar benar bahwa semua awal pasti memiliki akhiran. Keresahan yang muncul dari pertanyaan yang sederhana namun tak begitu mudah untuk menemukan jawabannya. Apa yang akan anda lakukan di sisa hidup yang mungkin tak akan begitu lama lagi?

 Yup, akhirnya curhat ini mengenai seseorang yang selalu merasa cukup dengan apa yang sudah dan sedang diperbuat untuk menjadikan “akhiran” itu menjadi indah. Bagi si kawan yang selama ini berproses dengan FSTVLST, nama ben-benan nya, serta etos hidup yang dijalaninya memang sedikit banyak didedikasikan sebagai sumbangsih ke society. Namun pertanyaannya, apakah semua itu telah cukup khususnya bagi lingkungannya yang terdekat?

Dari keresahan-keresahan itu, lalu si kawan mulai melacak jejak hingga ia akhirnya berada di titik sekarang. Lalu muncullah sedikit petunjuk bahwa (dengan tidak sadar) ia sering alpa untuk sejenak memikirkan “tanah tumpah darah” tempat ia dilahirkan, Gunung Kidul, Yogyakarta.

Menyimak curhat si kawan, saya dalam hati ikut mengiyakan. Tak pernah cukup intens memang saya rela mengorbankan waktu untuk mengajukan pertanyaan yang sama. Padahal saya tahu betul disana ada banyak persoalan yang bahkan berhubungan tentang “hidup mati” tanah kelahiranku itu.

Yang menarik dari keresahan si kawan ini karena ia sudah memiliki rencana untuk menjawab keresahan itu. Ia berencana untuk memulai sebuah sanggar, serupa mini cultural center yang memiliki tujuan sederhana yaitu mengembalikan Gunung Kidul ke hati generasi-generasinya.

Lebih jauh bahkan si kawan telah menyiapkan sebuah desain project untuk cita-citanya ini dengan tajuk PAST PRESENT FUTURE. Latar belakang project ini cukup sederhana namun sepertinya tak begitu banyak yang memperhatikan. Menurut si kawan, banyak orang Gunung Kidul “kehilangan” kebanggaan menjadi orang Gunung Kidul atau bahkan “belum pernah” punya kebanggaan itu, stereotipe “lemah” Gunung Kidul yang terus diamini, dan yang memprihatinkan bahwa kondisi “keterbelakangan” ini seringkali justru dianggap sebagai eksotisme oleh para imperialis. Demikian beberapa musabab yang menjadi latar belakang project ini. Selain itu, si kawan menegaskan bahwa selama ini tidak ada pergerakan yang mampu dan memang fokus untuk menggali potensi budaya, dan menggarisbawahinya dengan marker menyala supaya terlihat menarik.

Secara lebih terperinci si kawan menjelaskan kepadaku perihal project besar ini. Untuk PAST, berisi aktivitas penulisan sejarah budaya dan simpul-simpul besar kebudayaan dalam kurun kronologis, ditulis, menjadi arsip literatur. Supaya ia menjadi acuan, maka penulisan ini akan menggunakan bahasa sederhana sehingga orang-orang Gunung Kidul dapat lebih mengetahui kalau mereka juga punya sejarah. Kemudian apa yg ditemui disitu, menurut si kawan akan dipenetrasikan pelan-pelan pada generasi sekarang. Dan yang menarik bahwa gagasan-gagasan adiluhung ini akan di versuskan dengan popular culture dan apa-apa yg terjadi saat ini.

Untuk PRESENT, berisi project budaya dan seni. Mengapa seni dan budaya? Bagi si kawan, bukankah tanda sehatnya budaya  adalah dari keseniannya. Selanjutnya, rekaman atas seni yang merupakan manifestasi dari dua sub project ini, Past dan Present, harapannya akan menjadi serupa agitasi bagi bagi siapapun dan pada gilirannya mereka akan menciptakan percikan-percikan lain. Entah sedikit atau banyak, mereka yang menciptakan percik-percik ini, harapannya akan menjadi “sesuatu” bagi lingkungan sekitarnya. Perlahan, namun kontinyu sehingga dapat berkembang dan meluas. Dan harapan si kawan, semoga apa yang hendak dilakukan ini bisa memberikan nilai 'kebanggaan' menjadi orang Gunung Kidul yang entah kapan dulu, pernah ada, atau tidak.

Saat saya memohon izin untuk meng copy project ini untuk dijalankan di tempat lain, buru-buru si kawan “menolak.” “Wah, jangan ini harusnya dibangun bersama.” Jawab si kawan. Hmm, benar. Seharusnya ini adalah project bersama yang siapa pun dapat terlibat didalamnya tanpa harus dikerangkeng oleh batasan-batasan geografis yang semu. Ini bisa dimulai di Gunung Kidul dan bisa diperluas di “Gunung Kidul” lain yang begitu banyak di negeri ini.

.....................................

Saya dilahirkan di salah satu pulau di sebelah Tenggara Sulawesi. Meski saya tidak tumbuh besar di pulau ini karena kedua orang tuaku beraktivitas sebagai guru di Ibu Kota Provinsi dan saya hanya mengunjungi tanah kelahiranku di saat liburan saja, namun saya selalu bangga bercerita tentang keindahan pulau ini beserta keramahan dan kebersamaan orang-orang di pulau ini.

Namun,beberapa tahun terakhir kebanggaanku akan cerita-cerita indah ini lumayan terusik oleh aktivitas penumpukan laba oleh para penambang yang dengan buas menghajar setiap sisi pulau yang di dalam perutnya berisi kekayaan alam yang tak ternilai. Dalam sekejap, ceita-cerita indah masa kecilku lalu berubah serupa potongan-potongan kesuraman dan pesimisme dan sepertinya sebentar lagi mati. Degradasi alam terjadi dalam hitungan kerdipan mata, dan komunalisme lalu berganti individualisme dengan mata dan telinga yang tetap “terbuka”.

Lalu, beberapa dari yang muda dan masih berpikir waras mencoba berbuat sesuatu untuk menyelamatkan cerita-cerita indah itu sebelum ia tenggelam bersama berton-ton tanah berisi material bernilai yang dirampas secara legal dan dilayarkan menuju negeri entah. Hingga kini sudah banyak yang mereka lakukan namun karena kekuatan modal begitu menggurita dan punya kuasa bahkan atas otoritas yang disumpah untuk melayani para lemah, hingga semuanya tak begitu mudah untuk mencegah potensi kerusakan yang besar terjadi.

Saya sendiri hingga kini tak bisa berbuat banyak, sesekali memberi masukan kepada mereka yang muda dan mau berbuat, namun lebih sering hanya menyimak yang mereka kerjakan dari jauh. Kondisi begini bagiku sangat “memuakkan.” Saat seharusnya harus berbuat banyak namun tak begitu tahu harus berbuat apa. Dan bukankah diam hanya akan memperpanjang barisan perbudakan?

Itu mengapa curhat si kawan sore itu tentang cinta atas tanah tumpah darah begitu mengusikku hingga kini. Dan bagiku, seharusnya curhat itu mengusik kita semua. Ini bukan soal “nasionalisme sempit”, namun lebih jauh karena ini semua berkaitan dengan “KITA” dan ekspresi sosialitas yang seharusnya inheren dalam diri kita yang berani mengambil tanggungjawab menjadi manusia.

........................................

Setelah saling menyemangati dan sedikit komentar tentang tatto Fibonacci di tubuh si kawan,  sesi curhat sore itu kami akhiri dengan iringan doa semoga kami dapat segera bertemu dan bisa bertukar pikiran sambil menikmati secangkir teh jahe di Kota Imajinasi itu.

Akhirnya, mulailah meluangkan waktu untuk menyapa kampung halamanmu!

Belia Pagi
Kedai Buku Jenny, 31 Desember 2012

cerita dari FESTIVALIST #02


Bhineka Tunggal Ika. Mungkin kita mengenal kalimat ini ketika masih duduk pada bangku kayu sekolah dasar,atau malah baru tau sebab membaca tulisan ini, tentang keberagaman, perbedaan yang sebenarnya tetap satu. Satu bangsa,satu satu bendera dan satu sama lain yang semetinya bisa bersatu. Toh seiring merambatnya waktu,perbedaan ternyata menjadi pematik untuk saling singgung dan bunuh di negri ini. Kebencian sudah tertanam dari dini,pelajar gemar bermain batu,kayu,besi dan parang,beradu hakim satu satu sama lain. Trotoar dan aspal adalah arena dan saksi bungkam berpeluh darah pun dendam.

Dari sedikit chaos-chaos yang terungkap di atas, yang sebenarnya tidak dapat di hitung dengan jari,masih ada beberapa orang-orang dengan ide-ide, gagasan dan aksi nyata yang positif. Tersebutlah FESTIVALIST,sebuah nama yang merangkul, menjabat erat siapapun setiap kamu. Bukan fanbase pun groupies, melainkan lingkaran sebuah keluarga dari band yang cukup senja dari ranah Jogjakarta yang bernama FSTVLST.

Sabtu 8 Desember 2012 bertempat di STIM AMP YKPN baru saja di helat FESTIVALIST #02 dengan tajuk Bhineka Tunggal Ika. Gigs dan rilisan pertama rintisan bersama,sebuah album kompilasi terangkum 18 track dalam kepingan CD dari band-band penampil. Nama-nama baru dan pelaku lama Soloensis, Savior, Overjoy, The Chemo, Alterego, Trippingjunkie, Thsmslhd, Sheena, Balaclava, Jimbekids, Rootbottom, The Kage, Gunmors, Jalang, Banana For Silvy, Rizuvan Airsick, FSTVLST, dan The Wonosari. Lorong dari dasar yang paling dasar dari bangunan perkuliahan,adalah altar para penampil unjuk gigi. Cukup dengan mengeluarkan rupiah 40.000 (CD KOMPILASI + BANDANA + STICKERPACK+TIKET MASUK FESTIVALIST #02) atau 15.000 (Bandana+Stickerpack).

Panggung sederhana tidak ada batasan interaksi antara band dan penikmat, menyuguhkan tarian mosing-mosing liar. Hujan di luar dengan suhu dingin di dalam ruang membuat detik-detik lesu, seperti derap semut yang tidak bisa di hardik pergi. Di bukanya gerai panggung oleh Rizuvan Airsick, Balaclava, The Kage, Jalang pelan perlahan mampu memanaskan setiap seisi ruang, dengan aroma Led zepp dan Garage Bandung yang begitu tercium di lubang hidung. Sheena memboikot panggung,melantun Morrisey, Kings Of Leon dan Dead Weather sejurus dengan kaki-kaki yang mulai merapat ke bibir panggung.

Selepas jeda maghrib Jimbekids menawarkan tetabuhan unik,di padukan alunan biola menciptakan harmonisasi yang indah. Lalu di susul aksi Rootbootom, Banana for Silvy, The Chemo band tamu dari semarang dan Overjoy seiring tiket masuk yang mulai menipis. Giliran Thsmslhd pegang kendali, dengan ciri khas lelaku kocaknya yang  tetap saja mampu membuat suasana semakin panas!. Belum sempat menetralisir mengatur detak jantung, Alter Ego mengambil alih kemudi, yang menjadikan panggung sebagai ajang reunian Illegal Motives, tak luput menggandeng Farid Stevy Asta dalam lagu What Ever You Say yang belum lama ini mereka rilis.

Tiket sold out! begitu seru panitia berpita merah bercakap kepada sebelahnya. Ruang semakin padat penduduk, Savior on stage dengan playlist dari lagu-lagu karya mereka sendiri. Dan FSTVLST yang banyak di tunggu menyapa lewat lagu Menangisi Akhir Pekan dan di susul dengan track-track andalan yang sudah sangat di hafal di luar kepala oleh para festivalist. Menciptakan karaoke masal sepanjang pertunjukan mereka. Soloensis band tetangga dari solo datang dengan rock blues dan sound kasarnya, sebelum di lanjut oleh band yang lama menghilang dari peredaran The Wonosari (kolaborasi Moki Airport Radio dan Farid Stevy Asta FSTVLST). Di ujung pementasan sebenarnya masih ada Tripping junkie di balik panggung, yang baru saja merilis single Asma. Namun kerena keterbatasan waktu dengan sangat menyesal panitia mereka tidak dapat tampil.

Gigs yang sederhana,namun memberi kesan dan pesan yang luar biasa. FESTIVALIST #02 berhasil menciptakan huru-hara bawah tanah Garage Rock Jogjakarta. Membuat kita untuk mengigat lagi tentang Bhineka Tunggal Ika, yang sudah luntur dan memudar seiring musim dan bergesernya  peradaban. Lewat musik mereka mampu berbicara, walau hanya sesuatu yang kecil, jika takarannya adalah untuk sebuah bangsa, tetapi bukankah perubahan di mulai dari sesuatu yang kecil, dari diri sendiri lalu merangkul banyak kepala?

Tetap saja saya menaruh hormat dan angkat topi untuk kerja keras mereka (FESTIVALIST)!

Salam setara!
Chandra Permana

new merch!


ini akan menjadi kolaborasi istimewa, karena belum pernah sebelumnya kami berduet dengan clothing brand dalam urusan cinderamata resmi, sebelumnya FSVTLST menjalankan semua sesi merchandise sendiri dengan nama dagang: MATAPISAU. jadi, ini adalah kali pertama kami menggarap rilisan merchandise dengan sebuah clothing brand. adalah CROWD, yang menantang kami untuk hal ini, khusus pada helatan clothing exhibition bernama The Parade 2012 yang akan berlangsung di JEC Yogyakarta, kami akan merilis merchandise edisi khusus dalam jumlah yang sangat terbatas (dengan penomeran di setiap lembar cinderamata). kami juga akan di berikan ruang pamer khusus di booth CROWD, bersandingan dengan CROWD DENIM. dan gosipnya, juga akan ada edisi khusus FSTVLST VS CROWD DENIM nanti.

cinderamata resmi dengan nama dagang MATAPISAU juga akan menyusul rilis sesi ke III, awal tahun depan, akan ada beberapa barang tidak lazim dan aneh untuk sebuah band merchandise :) 

bhinneka tunggal ika


adalah: FESTIVALIST #02. sebelumnya perlu kami sampaikan, FSTVLST adalah kami (band), festivalist adalah sebutan untuk teman-teman festivalist yang kemudian terbentuk pelan bukan sebagai fanbase, tetapi menjadi lingkaran pertemanan dan keluarga. Di FESTIVALIST #01, Almost Baksos Barely Bukber, beberapa band di lingkungan festivalist maen, dan dari acara itu terkumpul sejumlah uang, di salurkan ke panti asuhan dalam bntuk sembako. Kira-kira 600an festivalist mendatangi FESTIVALIST #01, nonton benbenan dan ikut bersumbangsih dalam baksos. Salutasi kami untuk itu. 

Dalam lingkaran yg lebih kecil adalah panitiaFESTIVALIST #01, yang juga adalah festivalist sendiri. ini mengapa nama acaranya: FESTIVALIST panitianya festivalist, yang maen band-band mereka juga, dan juga kami FSTVLST, untuk festivalist. Nah, setelah FESTIVALIST #01, kami tantang lagi festivalist untuk membuat yang kedua. FESTIVALIST #02, 8 desember 2012, di STIM YKPN, 14.00-23.00, benbenan dan rilis CD kompilasi dari band-band yang maen. sedap kan.Tema yang dipilih oleh festivalist: 'bhinneka tunggal ika', yang pada dasarnya adalah kesetaraan juga. Soloensis, Savior, Overjoy, The Chemo, Alterego, Trippingjunkie, Thsmslhd, Sheena, Balaclava, Jimbekids, Rootbottom  The Kage, Gunmors, Jalang, Banana For Silvy, Rizuvan Airsick, FSTVLST, The Wonosari. Akan menjadi panggung rendah luas terang tanpa barikade. perayaan kesetaraan seharafiah-harafiahnya. mengundang semua


bahagia berbagi

sejak sebelum berganti nama menjadi FSTVLST, kami sedikit banyak menganut sebuah istilah menganut prinsip copyleft, yang menurut wikipedia, definisi ringkasnya adalah: permainan kata dari istilah copyright (hak cipta) dengan arti berlawanan, dimana copyleft merupakan praktek penggunaan undang-undang hak cipta untuk meniadakan larangan dalam mendistribusikan salinan dan versi yang telah dimodifikasi dari suatu karya kepada orang lain. Sampai kemudian kami mendapatkan sebuah wacana baru tentang etos ini dalam sebuah sistem bernama ceative commons. kami masih belajar tentang wacana ini, pun juga teman-teman dapat belajar bersama kami. sebagai awalan, silahkan kunjungi klik ini: creative commons.

apa yang mendasari keputusan kami untuk menggunakan prinsip-prinsip ini adalah, keinginan kami untuk memaksimalkan distribusi karya dan yang lebih penting adalah, merasakan kebahagiaan berbagi. maka dari itu, kami lewat postingan ini akan memperkenalkan prinsip berbagi kami. yaitu bahagia berbagi, dengan logo dua huruf b di dalam lingkaran, yang seperti juga copyleft sebagai permainan kata dari copyright, maka bahagia berbagi adalah permainan logo dari creative commons, namun kali ini dengan makna, semangat dan prinsip-prinsip yang sama. kami akan membagikan karya-karya kami, teman-teman bisa memakainya untuk kepentingan nirlaba (non komersial) apapun, yang kami harapkan hanya penulisan nama kami sebagai pembuat karya tersebut. sesederhana itu. 

berikut ini adalah beberapa lagu kami, yang sejak lahirnya dulu sudah kami share lewat berbagai macam tautan. kali ini kami kumpulkan dan rapikan kembali ke sebuah akun media fire. teman-teman bisa klik langsung di setiap judul lagu yang akan kami tuliskan berikut ini untuk menuju tautan unduhan gratisnya. adalah: matimuda, menangisi akhir pekan, manifesto post-modernism, 120, mahaoke, monster karaoke, hari terakhir peradaban-prolog, hujan mata pisau, menantang rasi bintang (demo, acoustic), the only way (acoustic). 

tentang siapa kami sejatinya, hanya ada satu jawaban yang sangat bisa menjelaskan, jawaban itu adalah: kami bukan siapa-siapa. namun begitu, kalau teman-teman tidak puas dengan jawaban itu, silahkan baca-baca postingan kami sebelumnya di blogroll ini, atau mampir ke akun vimeo kami (klik saja): FSTVLSTvideo, follow twitter kami: FSTVLST, kunjungi blog kami sebelum berganti nama menjadi FSTVLST: jenny teman pencerita.

begitulah bahagianya kami, bahagia berbagi. terimakasih..


Sajakkan Saja


Seperti kebiasaanku sebelumnya, karena rasa malas yang selalu mendera akhirnya sepotong kisah ini tak urung nongkrong di blog ini meski hampir sebulan lebih ia terus bersemayam di kepala dan ingatanku. Ini masih tentang sepenggal kisah di keluarga kecil ini. Kisah ini juga masih tentang keakraban, kebersamaan, dan keuletan untuk terus mau belajar dan mewujudkan makna kesetaraan dengan cara yang sederhana yang terus direnda di keluarga kecil ini.
………….

Ide ini sebenarnya sudah lama terpikir dan selalu kuniatkan untuk membagikannya ke teman-teman di FSTVLST untuk sama-sama diwujudkan. Namun setiap kali bertemu, saya pasti lupa untuk menyampaikannya. Ide ini kembali teringat sesaat setelah diskusi panjang lebar bersama Gulita Benderang dan Muda Rebah pada suatu sore yang sendu sambil lesehan di salah satu angkringan selatan Jogja. Saat ide lama ini kembali kuingat, segera kuketik pesan singkat untuk Gulita Benderang dan menyampaikan ide itu. Dan tak lama pesan singkatku berbalas, dan kami merencanakan untuk bertemu lagi keesokan harinya untuk membicarakan ide itu.

Awalnya ide ini tak bernama bahkan hingga detik-detik terakhir sebelum ide ini kami eksekusi menjadi hajatan yang sederhana namun penuh keakraban. Ide ini sebenanrnya sederhana saja. ia masih berhubungan dengan aktivitas berkesenian dan olah rasa. Entah setelah pulang dari gig FSTVLST yang mana dan pada akhir pekan kapan, tiba-tiba saja terlintas di kepala kalau sepertinya keren dan menarik kalau keluarga kecil ini kapan-kapan membuat acara baca puisi bersama di malam hari. awalnya saya membayangkan bahwa hajatan ini bakalan keren kalau diadakan di depan Angkringan Pak Tegho, sambil membuat lingkaran dan semua yang hadir harus membawakan puisinya. Ya, sesederhana itu saja sebenarnya. Bagi saya, puisi tidak hanya urusan bait dan rima yang indah, namun lebih dari itu bahwa puisi dan berpuisi adalah urusan keinginan untuk terus mereproduksi ruang-ruang baru yang dapat terus mengolah rasa dan empati, kebersamaan serta rasa peduli terhadap diri dan lingkungan terdekat. Yup, segamblang itu! Namun ia tetap tak bernama hingga detik-detik terakhir bahkan setelah kami berusaha keras untuk menamai ide ini.

Keesokan sorenya setelah pesan singkatku berbalas, kami bertiga kembali bertemu dan mendiskusikan mengenai ide ini lebih jauh. Dan setelah berdiskusi tak begitu lama, kami menyepakati untuk mewujudkan ide ini keesokan malamnya. Kami juga bersepakat mengadakan acara ini di halaman depan tempat hunian Gulita Benderang di Selatan Jogja dan yang paling penting bahwa semua yang hadir dan terundang wajib naik ke atas stage yang hanya akan disinari oleh temaram lilin-lilin untuk membawakan atau membacakan puisinya.

Pukul 20.00 waktu Bantaran Sungai Code, saya bersama Sang Muda Rebah serta satu teman lainnya meluncur menuju Selatan Jogja setelah sebentar singgah di salah satu warnet untuk mencetak beberapa puisi yang pernah kubuat sekitar tahun 2006 yang juga menjadi koleksi puisiku satu-satunya. Tak berapa lama kami sudah sampai di depan halaman tempat Gulita Benderang menetap beberapa bulan terakhir. Kami seperti biasa disambut dengan keramahan Milo, anjing manis milik Angga penghuni rumah itu juga. Seperti ekspektasiku, ruang yang tak begitu luas di depan kamar Gulita Benderang diubah sedemikian rupa hingga menjadi begitu indah dan syahdu untuk hajatan pusi malam itu. Dua meja yang sehari-harinya berada di depan kamar itu sementara disingkirkan dan digantikan dengan karpet dan beberapa kursi yang lalu digunakan sebagai tempat duduk oleh para terundang. Tepat di depan pintu kamar terdapat box yang kalau tak salah adalah tempat menyimpan perkakas vespa dijadikan sebagai stage dan dibelakangnya terdapat lukisan besar karya Gulita Benderang yang berfungsi sebagai latar. Pokoknya sesaat melihat tempat itu, saya langsung jatuh cinta….hahaha……..

Hajatan berpuisi malam itu baru dimulai sekitar jam 10 malam saat sekitar 20 an teman telah hadir di tempat itu dan siap (atau mau tidak mau harus siap) berpuisi di tempat itu. Beberapa menit sebelum akhirnya hajatan itu dimulai, akhirnya nama untuk acara yang niatannya akan terus diadakan itu ditemukan. Entah dari mana, tiba-tiba terlintas kata “Sajak” dan kemudian disempurnakan oleh Gulita Benderang menjadi “Sajakkan Saja.” Maka jadilah acara malam itu bernama Sajakkan Saja.

Sajak sepertinya menjadi kata yang tepat untuk helatan malam itu karena alih-alih “berpuisi,” hampir semua yang hadir malam itu memenuhi takdirnya duduk diatas stage sambil mensajakkan cerita, kisah dan penggalan hidup mereka satu-per satu. Disana ada “sajak” tentang harapan yang belum ter eja, tentang rasa syukur terhadap hari yang selalu menghadirkan kejutan-kejutan, tentang ucapan terima kasih kepada mereka yang selalu menyuguhkan cinta meski sering kali teracuhkan dan akhirnya tersadar ketika waktu serasa berhenti ketika satu per satu mereka telah pergi, tentang semangat untuk menjumpai hari esok, tentang amarah dan sesal, dan tentu tentang kelucuan-kelucuan yang bahkan belum pernah terucap. Setiap kawan pun membawakan sajak-sajak nya masing-masing dengan style dan caranya sendiri-sendiri. Karena sajak-sajak itu semua, kami tertawa, diam, marah dalam hati, dan tak jarang mengusap mata untuk setiap tetes yang tumpah. Ah, nikmatnya keakraban ini.

Apa yang terjadi malam itu benar-benar diluar dari apa yang kami bayangkan saat pertama kali memutuskan untuk menghelat acara ini. Terlalu banyak kejutan yang semakin meyakinkanku bahwa keluarga ini akan terus menemukan caranya sendiri untuk belajar dan terus meng-eja kebahagiaan dan kesetaraan tentunya dengan cara-cara yang sederhana.
Helatan Sajakkan Saja #1 ini diakhiri sekitar pukul 02.00 dini hari. Setelah saling bersalaman, khususnya kepada dua sahabat yang keesokan harinya akan meninggalkan Kota Jogja karena studi yang telah usai dan akan kembali ke kampung halaman dengan membawa pelajaran-pelajaran penting dari keluarga kecil ini, kami semua beranjak pulang ke tempat masing-masing sambil membawa sunggingan senyum atas kebahagiaan dan keakraban malam itu.

Jangan diam, Sajakkan saja!

Belia Pagi
Di tengah lebat hujan Kota Daeng…